Semua Karena Sandal Jepit?

4 Jan 2012

Entahlah aku harus mengekspresikan bagaimana lagi, rasa kecewa hati ini melihat kesenjangan hukum yang terjadi pada negeri ini. Seorang bocah hanya gara-gara mencuri sandal jepit yang harganya gak sampai 30 ribu rupiah, milik seorang petugas polisi, terancam dengan hukuman penjara. Sementara di sisi lain, puluhan bahkan ratusan koruptor bebas berkeliaran. Parahnya mereka ikut mempermainkan hukum di negeri ini. Ketika sidang mereka mengulur-ulurnya dengan alasan yang bagi saya lucu, sakit, amnesia, sakit lagi, ahhh.. hingga bosan mendengarnya. Sungguh sedih menyayat hati, “law is blind” telah berubah menjadi hukum yang bermata. Lirik kanan, lirik kiri, terus lirik mereka yang berduit.

Foto 1. Aksi 1000 Sandal oleh Masyarakat

Foto 1. Aksi 1000 Sandal oleh Masyarakat

AAL, seorang pelajar sebuah sekolah menengah kejuruan negeri di Palu, Sulawesi Tengah, mencuri sandal jepit milik anggota polisi. Waktu itu, AAL dan temannya melintas di depan kos-kosan anggota polisi tersebut. Kemudian mengambil sandal dan memasukkannya ke dalam tas. Di bulan mei, petugas polisi tersebut memanggil AAL dan mengintrogasinya. Alhasil, AAL mengaku kalau dirinyalah yang mencuri sandal tersebut. Namun di saat proses introgasi AAL mengalami penganiayaan. Sang polisi tetap memperkarakan hilangnya sandalnya, sedangkan sang orang tua tidak terima dan memperkarakan balik sang polisi atas tuduhan penganiayaan.

Jauh sebelum kasus ini booming orang tua AAL menawarkan diri untuk mengganti sandal jepit baru tersebut, namun tawaran itu ditolak oleh sang polisi dan tetap memperkarakannya di meja hijau. Kalau dipikir-pikir, hanya gara-gara sandal jepit bisa terancam penjara maksimal selama 5 tahun.

Atas kejadian tersebut, banyak masyarakat yang simpati membela AAL. Simpati masyarakat tersebut didasarkan pada ketidakadilan hukum yang ada di Indonesia. Hukum tumpul di atas, namun tajam dibawah. Padahal hukum harusnya seperti belati tajam di atas dan bawah. Gerakan 1000 sandal pun mulai muncul. Sandal-sandal tersebut nantinya akan dihadiahkan kepada pimpinan polisi sebagai wujud kekecewaan masyarakat atas kejadian ini jika dibandingkan dengan kasus-kasus para tikus di negeri ini.

Sungguh tragis dan menyedihkan dunia hukum di Indonesia, saya sebagai blogger pun turut dibayang-bayangi rasa ketakutan untuk mengekspresikan rasa kecewa ini pada blog ini. Takut jika nantinya postingan saya ini menjadi boomeerang seperti kasus yang terjadi pada ibu prita beberapa waktu lalu. UU ITE pasal 27 ayat 3 berbunyi:

Setiap Orang dengan sengaja dan tanpa hak mendistribusikan dan/atau mentransmisikan dan/atau membuat dapat diaksesnya Informasi Elektronik dan/atau Dokumen Elektronik yang memiliki muatan penghinaan dan/atau pencemaran nama baik.

Banyak kasus kebebasan berekspresi, berinformasi dan berpendapat di dunia online mendapatkan tantangan dan perlawanan yang serius. Bagi pihak yang merasa tidak sependapat, tidak sepaham, atau sakit hati dapat memanfaatkan pasal ini untuk menutup kebebasan berekspresi kami (para blogger). Kami blogger Indonesia bertekat akan mengusulkan pada pemerintah untuk menolak UU ITE pasal 27 ayat 3 karena pasal tersebut bertolak belakang dengan dengan Pasal 28 Undang-Undang Dasar 1945 yang menyatakan bahwa, Setiap orang berhak atas kebebasan meyakini kepercayaan, menyatakan pikiran dan sikap, sesuai dengan hati nuraninya . Dan inilah bentuk ekspresi blogger Indonesia sebagai wujud kebebasan kami yang selalu menyuarakan aspirasi, ide, pikiran yang bersifat membangun lewat postingan blog.

Selamat berekspresi, kawan!

NB: Bukan maksud saya membela AAL, hukum haruslah berjalan semestinya. Kesenjangan perlakuan hukum inilah yang kami tuntut untuk dihilangkan. Dan yang harus ditanamkan pada pikiran kita untuk kasus ini, kenapa koruptor tidak bisa dihukum setegas AAL???

Sumber Foto:
Foto 1: http://www.tribunnews.com
Foto 2: http://mbahsangkil.com


TAGS Ekspresi Blogger Indonesia


-

Author

Follow Me